system pendidikan komparatif
SISTEM PENDIDIKAN DI CINA/RRT
Makalah
Disusun Guna
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Perbandingan
yang diampu
Oleh : Dr. H. Abdul Wahib, M.Ag dan Dr.
Machfud Junaedi, M.Ag
Disusun Oleh :
Luthfi Taufiq
1400018027
PROGRAM PASCA
SARJANA
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
SISTEM PENDIDIKAN DI NEGARA CINA/RRT
A.
PENDAHULUAN
“Carilah ilmu meskipun sampai negeri Cina/RRT”. Mencermati hadist Nabi Muhammad Saw diatas membuat kita
bertanya-tanya, apa yang menjadikan Cina/RRT begitu istimewa sehingga Nabi Saw
menyuruh umatnya menuntut ilmu sampai negeri Cina/RRT. Padahal jika dilihat
dari sisi geografis, antara Arab dan Cina/RRT begitu sangat jauh. Dalam buku Muhammad Said dan Junimar Affan
yang berjudul “Mendidik Dari Zaman ke Zaman”[1]
dikatakan bahwa: “Di negeri Cina/RRT pendidikan mendapat tempat yang penting
sekali dalam penghidupan”. Dengan mendapatkan peranan yang sangat penting
dalam kehidupan masyarakat, membuat sistem pendidikan di Cina/RRT meningkat.[2]
Sikap
masyarakat Cina/RRT yang mementingkan pendidikan di dalam kehidupannya telah
melahirkan sebuah filofis dan pandangan hidup bagi mereka mengenai pendidikan. Peribahasa Tiongkok kuno menyebutkan “Pendidikan
merupakan sebuah kotak emas; yang akan menjadi sebuah kunci untuk membangun
sebuah bangsa, menciptakan pemimpin dan melatih rakyatnya trampil”.
Pendidikan berfungsi sebagai sarana untuk merencanakan masa depan suatu bangsa
sehingga dituntut adanya keluaran yang berkualitas: pandai, cerdas, terampil,
mandiri, dan mampu memecahkan permasalahan hidup yang dihadapi. Pandai
dapat dilakukan melalui pengajaran tetapi cerdas, terampil, dan mandiri harus
melalui pendidikan. Hanya manusia cerdas yang dapat menghasilkan sesuatu
yang berguna untuk membangun suatu bangsa . Pendidikan sebagai
indikator dalam menunjang sumber daya manusia yang berkualitas, perlu di
kembangkan dan tetap dilestarikan keutuhannya. Kesadaran akan pentingnya
manfaat pendidikan dapat memberikan prestasi yang intelektual bagi manusia yang
terlibat didalamnya.[3]
Maka kini, tidak mengherankan jika negara Cina/RRT mengalami
kemajuan yang sangat pesat, terutama dalam bidang ekonomi yang menunjukan
negara Cina/RRT kini berubah dari negara berkembang menjadi negara maju.[4]
Dan, kemajuan Cina/RRT ini diyakini oleh banyak pihak karena keberhasilannya
mereka menghidupi falsafah kependidikan sekaligus keberhasilan menyelenggarakan
pendidikan bagi masyarakatnya. Dalam indeks pendidikan yang dikeluarkan oleh
PISA, bahwa Cina/RRT selalu menempati peringkat teratas dalam rangking
pendidikan. Kemajuan pendidikan di Cina/RRT dapat dilihat dari survey yang
diadakan oleh Program for International Student
Assessment (PISA) di bawah naungan OECD ( Organization Economic Cooperation and
Development ) tahun 2012 dimana Cina/RRT berada diperingkat atas (Shanghai
diperingkat 1, Hong Kong diperingkat 3, dan Macau di peringkat 6).[5]
Dengan penggambaran secara singkat akan kemajuan negara Cina/RRT
sebagaimana diatas, sudah seharusnya kita belajar dari negara Cina/RRT,
khususnya dari sisi sistem pendidikannya. Karena kemajuan sebuah negara
bergantung seberapa besar perhatian pemerintah atas pembangunan manusianya,
yang bisa dicapai dengan penyelenggaraan pendidikan sebaik-baiknya.
Untuk mengetahui bagaimana pemerintah negara Cina/RRT
menyelenggarakan pendidikan yang baik bagi masyaraktnya, maka dalam makalah ini,
oleh penulis akan dibahas, bagaimana sistem pendidikan di negara Cina/RRT?
Pembahasan ini meliputi, apa filsafat dan tujuan pendidikan negara Cina/RRT,
bagaimana formasi dan sistem kurikulum pendidikan dibentuk?
B.
SEKILAS
TENTANG NEGARA CINA/RRT
Sebelum kita membahas bagaimana sistem pendidikan di negara Cina/RRT,
perlu kita disini untuk memahami bagaimana sistem pemerintah, kondisi
demografi, politik dan kebudayaan negara Cina/RRT.
Republik Rakyat Cina/RRT juga disebut Republik Rakyat Tiongkok/RRT
Adalah sebuah negara komunis yang terdiri dari hampir seluruh wilayah
kebudayaan, sejarah, dan geografis yang dikenal sebagai Cina/RRT.[6]
Negara Cina/RRT/RRT memiliki daerah pembagian daerah administrasi: 23 provinsi,
5 daerah otonomi yang berpenduduk etnis minoritas (Xinjiang, Tibet atau Xizang,
Mongolia Dalam, Guangxi Zhuang dan Ningxia), 4 kotamadya setingkat provinsi
yaitu Beijing, Shanghai, Tianjin dan Chongqing, serta 2 Daerah Administrasi
Khusus yakni Hong Kong dan Macao. Negara Cina/RRT/RRT memiliki 9.564.500 km2
atau 3.692.000 mil2, negara terluas ketiga setelah Rusia dan Kanada, dengan
jumlah 1,35 miliar jiwa (2013).
Sistem pemerintah negara Cina/RRT/RRT dipimpin oleh seorang
presiden dan kepala pemerintahan dipimpin oleh Perdana Menteri. RRT menganut
sistem unikameral dimana kekuasaan tertinggi berada di tangan National
People’s Congress (NPC/Parlemen). Meskipun ada 9 partai di dalam NPC, namun
suara mayoritas berada di tangan PKT. Sementara 8 partai lainya, yaitu Partai
Komite Revolusi Tiongkok Kuomintang, Liga Demokratik Tiongkok, Pembangunan
Nasional Demokratik, Partai Kemajuan Demokrasi, Partai Demokratik Tani dan
Buruh, Partai Zhi Gong, Partai Daerah Istimewa Taiwan Demokrasi, dan Partai
Asosiasi 9-3/3 September, hanya menyampaikan aspirasi masyarakat yang
diwakilinya. Anggota NPC dipilih melalui pemungutan suara secara rahasia oleh provinsi,
daerah otonomi, dan kotamadya yang langsung di bawah pemerintah pusat serta
militer. Selain itu, kelompok suku minoritas juga mempunyai perwakilan di NPC,
baik yang tergabung dalam partai maupun utusan daerah.
Di samping itu, negara Cina/RRT juga memiliki lembaga penasihat,
yaitu Chinese People's Political Consultative Conference (CPPCC) yang
beranggotakan unsur PKT, partai-partai non-komunis (8 partai), golongan etnis
minoritas, agama, cendekiawan, organisasi sosial, dan organisasi masyarakat, seperti
palang merah, pemuda, dan orang-orang Tiongkok perantauan.
Lembaga Peradilan terdiri dari Mahkamah Rakyat Agung (MA),
peradilan daerah sesuai dengan tingkat daerahnya, peradilan militer, dan
peradilan rakyat khusus.
Untuk kondisi sosial dan kebudayaan, negara Cina/RRT adalah tantangan
demografi yang dihadapi saat ini, antara lain populasi yang menua, dan tingginya
tingkat cacat lahir di wilayah tertentu. Ketidakseimbangan rasio gender pada
dasarnya tidak terlalu tajam, yakni laki-laki: 51,3%, perempuan: 48,7%, namun
isu yang berkembang adalah sulitnya kaum laki-laki mencari pasangan hidup
akibat paradigma sosial yang mengakibatkan kaum perempuan Tiongkok lebih
memilih pasangan hidup yang berada ataupun expatriat.
Penggunaan internet khususnya mobile internet dan social media
tetap menjadi sorotan Pemerintah Ciina/RRT, terbukti dengan masih ketatnya
pengawasan terhadap situs-situs yang diduga berpotensi mengganggu keamanan dan
stabilitas nasional Cina/RRT, seperti Facebook, Twitter, blog dengan provider asing
(Multiply, Blogspot, Wordpress), bahkan menambah pemblokiran Google, YouTube,
the New York Times. Pertengahan tahun 2013 Pemerintah Cina/RRT telah
mengesahkan peraturan ‘Methods for Governance of Internet Information
Services’, yang mengharuskan perusahaan penyedia jasa layanan internet dan
perusahaan media untuk mengumpulkan identitas asli pengguna media sosial
mereka, baik yang memakai jasa blog, micro-blog, maupun bulletin board.
Pemerintah Cina/RRT menyatakan bahwa peraturan ini dimaksudkan
untuk memberikan perlindungan terhadap informasi pribadi pengguna internet di
dunia maya, yang dilakukan dengan memberikan nama dan data asli kepada penyedia
jasa internet dan media online. Peraturan ini juga dapat dijadikan basis hukum
untuk menjamin keamanan informasi online bagi 538 juta pengguna internet (per
Juni 2012, sumber: China Internet Network Information Center – CINIC), serta
menjaga perkembangan internet yang sehat di Cina/RRT. Kiranya pemberlakukan
peraturan ini nantinya akan memberikan tekanan lebih kepada penyedia layanan
internet (China Mobile, China Telecom) dan perusahaan media (Sina Corporation,
Sohu, Baidu, Youku, dan Tencent Corporation) dan tidak serta merta pada
pengguna layanan. Meskipun beberapa pengamat asing dan pengguna internet sudah
menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap peraturan baru tersebut, secara umum
para pengguna internet (Netizen) di Tiongkok belum menunjukan perubahan
aktivitas. Mereka tetap membahas isu-isu politik, ekonomi dan sosial secara terbuka
dalam micro-blog dan media sosial lainnya.
Pemerintah Cina/RRT menghimbau agar penggunaan internet dan media
sosial digunakan untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta
aktivitas ekonomi. Sementara itu media massa Cina/RRT secara garis besar
mengikuti himbauan pemerintah untuk meliput isu-isu yang berkaitan dengan
rencana pembangunan lima tahun di Tiongkok, serta mempromosikan pengembangan
ilmu pengetahuan dan pertumbuhan ekonomi bangsa.[7]
C.
SISTEM
PENDIDIKAN DI NEGARA CINA/RRT
1.
Dasar
Falsafah dan Tujuan Pendidikan Negara Cina/RRT
Dinasti Han tahun 206 SM – 220 M
merupakan dinasti kekaisaran besar pertama didalam perjalanan sejarah
kekaisaran Cina/RRT. Pada masa ini, banyak literature lama yang dikumpulkan dan
diperbaiki kembali. Hal tersebut dikarenakan pada masa pemerintahan sebelumnya
ajaran-ajaran Kong Hu Cu diberantas habis. Pada masa ini, Confusianisme menjadi
falsafah terkemuka dan menjadi inti bagi sistem pendidikan.[8]
Pada masa Dinasti Han ini yang menjadi dasar masyarakat Tionghoa, ialah
pengajaran confusius.[9]
Pada negeri Cina/RRT, pendidikan
mendapat tempat yang penting sekali dalam penghidupan.[10]
Hal tersebut dikarenakan masyarakat Cina/RRT menganggap pendidikan sejalan
dengan filsafat, bahkan menjadi alat bagi filsafat, yang mengutamakan etika.[11]
Anggapan ini membuat pendidikan di Cina/RRT mengiringi kembalinya popularitas
aliran filsafat Kung Fu Tse di dalam masyarakat Cina/RRT.
Anggapan tersebut muncul dari
ajaran-ajaran Confusianisme yang mulai mendapatkan tempat kembali di hati
rakyat Cina/RRT, yang ditandai dengan munculnya Dinasti Han sebagai penguasa.
Ajaran-ajaran tersebut mengajarkan bahwa pendidikan tersebut penting. Seperti
yang ditanamakan Hsun Tzu, “Belajar terus sampai mati dan hanya kematianlah
yang menghentikannya”.[12]
Belajar adalah pekerjaan sepanjang hayat, dan jabatan yang tinggi mungkin
merupakan ganjarannya. Cina/RRT telah memberikan status pada kegiatan belajar
lebih dari masyarakat mana pun.[13]
Jadi, dalam membicarakan mengenai
falsafah pendidikan Cina/RRT, tidak dapat dijauhkan dari pembicaraan mengenai
ajaran Confusianisme. Seperti yang diutarakan di atas, bahwa ajaran
confusianisme memberikan dasar-dasar dan sumbangan-sumbangan dalam sistem
pendidikan Cina/RRT, khususnya pada masa Dinasti Han ini. Dalam ajaran
confusianisme, “pendidikan adalah mesin yang mengemudi dunia kebenaran
menuntut pendidikan dikejar secara terus menerus sampai kematian.”
Pernyataan-pernyataan yang dinilai
mementingkan pendidikan tersebut dan diperkuat dengan ajaran Kong Hu Cu yang
dianggap sebagai agama bagi masyarakat Cina/RRT, dimana masyarakat Cina/RRT
sangat kuat dalam memeluk ajaran tersebut, sehingga membuat pendidikan memiliki
sisi yang penting dalam kehidupan masyarakat Cina/RRT. anggapan pentingnya
pendidikan tersebut memberikan dampak yang sangat berpengaruh dalam sistem
masyarakat Cina/RRT, sehingga segala aspek yang berhubungan dengan pendidikan
mendapatkan tempat-tempat istimewa.
Ajaran confusianisme yang mulai muncul
kembali dan berkembang pesat pada masa dinasti Han, serta ajaran ini menjadi
dasar kepercayaan membuat pemerintahan tersebut menjalankan ajaran-ajaran
didalamnya secara benar. Ajaran yang sangat memberikan perhatian besar terhadap
pendidikan, membuat pemerintahan Dinasti Han membentuk sebuah sistem pendidikan
yang didasari atas pemikiran dari ajaran confusianisme.
Sedang, Tujuan pendidikan nasional Cina/RRT
adalah untuk mempersiapkan pelajar mengembangkan dirinya dalam dimensi moral,
intelektual, fisik, dan estetika sesuai dengan bidang pekerjaannya kelak agar
menjadi pekerja sosialis yang memiliki idealisme, terdidik dan berbudaya serta
memiliki karakter yang kuat dan disiplin.[14]
2.
Dasar
Hukum Pendidikan Negara Cina/RRT
Sejak pertengahan tahun 1980‐an telah dihasilkan produk hukum yang memayungi pelaksanaan
pendidikan di Cina/RRT/RRT. Pemerintah menggunakan produk hukum ini untuk mengalokasikan
dana pendidikan, perencanaan pendidikan, evaluasi penyelenggaraan pendidikan,
pengaturan kebijakan pendidikan, pelayanan informasi, dan pengawasan pelayanan
pendidikan. Produk hukum yang dimaksud adalah seperti: School Act, Educational
Examination Act, Educational Investment Act, Lifelong Learning
Act, Compulsory Education Law, Education Law, Teacher Act,
Higher Education Act, Academic Degrees Regulations, Private
and Non‐Governmental
Education Promotion Act, National
Act on Language and Scrip System, Regulation on China‐Foreign Joint Education Institutions and Programmes.[15]
Beberapa peraturan perundangan diatas merupakan hasil dari diskusi
mendalam antara pemerintah pusat dengan para pemangku kepentingan, pengambil
kebijakan, ahli, dosen universitas, dan guru sekolah.
3.
Kurikulum
Pendidikan di negara Cina/RRT
a.
Tahap
reformasi kurikulum pendidikan
Kurikulum pendidikan di Negara Cina/RRT mengalami perubahan
sebanyak 8 kali sejak berdirinya Cina/RRT. Perubahan kurikulum ini merupakan
tuntutan yang dibutuhkan agar Cina/RRT menyesuaikan dengan kebijakan ekonomi
dan pasar kerja domestic maupun global.
Reformasi kurikulum pendidikan di Cina/RRT dimulai pada tahun 1949
yang merupakan awal kebangkitan Cina/RRT Baru dibawah pimpinan Mao Tse Tung.
Dalam kurun waktu 1949-1976 terjadi empat tahap reformasi
pendidikan dan diselenggarakan dua kali Konferensi Pendidikan untuk merevisi
kurikulum pendidikan di Cina/RRT.
Sebagai awal dari Reformasi Tahap I (1949-1952) dilakukan
sentralisasi sistem pendidikan untuk menyamakan kurikulum, bahan ajar, dan lesson plan. Pada bulan September 1950 telah diterbitkan bahan ajar untuk
tingkat SD, SMP, dan SMA dengan fokus pada pendidikan sains dan moral, terutama
ideologi komunis dan politik negara. Pada bulan Maret 1951 diselenggarakan
Konferensi Pendidikan Pertama untuk melakukan standarisasi pendidikan yang
kemudian menjadi UU Sistem Pendidikan. Undang-undang tersebut mengatur bahwa SD
terbagi menjadi tingkat SD awal selama 2 tahun dan SD lanjutan 3 tahun, SMP 3
tahun, dan SMA 3 tahun.
Pada Reformasi Tahap II (1953-1957) sistem pendidikan sangat
dipengaruhi oleh kondisi perekonomian negara dan antar mata pelajaran tidak
saling mendukung atau melengkapi. Untuk itu kembali diselenggarakan Konferensi
Pendidikan Kedua untuk merevisi, memperkuat, dan mengembangkan kurikulum
pendidikan SD-SMA. Kemudian pada tahun 1956, Kementrian Pendidikan Cina/RRT
menerbitkan kurikulum lengkap untuk seluruh mata pelajaran SD-SMA.
Pada bulan Februari 1957, Mao Tse Tung sebagai pemimpin utama di Cina/RRT
menyatakan “Arah pendidikan seharusnya mendidik siswa dalam hal moral, ilmu
pengetahuan, dan olah raga yang harus didasari oleh ideologi sosialis”.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa pendidikan moral merupakan hal yang paling
utama, kemudian diikuti dengan ilmu pengetahuan dan olah raga.
Pada periode Reformasi Tahap III (1957-1963) Cina/RRT sedang berada
pada masa terburuk akibat Perang Dingin dengan Negara-negara Barat. Hal ini
menyebabkan siswa-siswa dari SD hingga SMA harus ikut bekerja, terutama di
bidang pertambangan untuk ikut membantu permasalahan yang dihadapi negara.
Untuk itu kemudian dibuat revisi kurikulum pada September 1958 sehingga pendidikan
tingkat Dasar dan Menengah masing-masing hanya perlu ditempuh selama 5 tahun.
Dalam jangka waktu 10 tahun, siswa diharapkan sudah menguasai pengetahuan yang
di Negara Barat harus ditempuh selama 12 tahun. Pada tahun 1961 muncul
kesadaran bahwa sistem pendidikan yang diterapkan tidak menghasilkan output seperti yang diharapkan. Untuk itu kembali dilakukan revisi
kurikulum untuk memperbaharui dan memperkuat arah pendidikan. Selain itu juga
dikeluarkan peraturan baru agar siswa tidak boleh bekerja dan hanya wajib
belajar saja.Pada tahun 1964, Mao Tse Tung dalam Sambutan Musim Semi (awal
tahun) kembali menyatakan bahwa sistem pendidikan, kurikulum, dan pengajaran
harus diganti. Hal ini menjadi masalah besar karena meski Mao adalah pemimpin
yang sangat disegani dan banyak membuat kemajuan di Cina/RRT, dia bukanlah
pakar pendidikan. Perubahan sistem pendidikan dan kurikulum yang terus terjadi
membuat masyarakat tidak lagi percaya dengan sistem pendidikan yang ada.
Akibatnya, pada periode Reformasi Tahap IV (1964-1976) ini posisi
guru dianggap tidak penting dan tidak terhormat. Pada tahun 1966, banyak guru
yang diperolok dan dicemooh oleh muridnya sendiri. Akhirnya mereka pindah dari
kota ke desa dan beralih profesi menjadi petani. Dalam kurun waktu 1966-1976
terus terjadi kekacauan di Cina/RRT dan ini menjadi titik terendah dalam
kepemimpinan Mao. Masa ini dikenal dengan sebutan Revolusi Kebudayaan.
Pada masa ini aktivitas belajar sangat minimal, kebanyakan siswa ikut dalam
unjuk rasa dan provokasi yang dilakukan masyarakat terhadap pemerintah.
Setelah Mao Tse Tung meninggal dunia pada tahun 1976, posisinya
digantikan oleh Deng Xiao Ping yang memiliki pandangan lebih modern. Deng
adalah salah satu pemimpin Cina/RRT yang mendapat pendidikan di negara Barat.
Hal inilah yang kemudian merubah Cina/RRT dari yang dulunya tertutup menjadi
sangat terbuka terhadap dunia barat.
Pada tahun 1977 diadakan konferensi untuk pendidikan sains yang
menghasilkan rancangan sentralisasi kurikulum dan menerbitkan buku ajar. Tujuan
Reformasi Tahap V (1977-1980) adalah untuk mengejar ketertinggalan Cina/RRT
terutama dalam bidang teknologi.
Tahap Reformasi VI berlangsung antara tahun 1981-1984. Pada tahun
1981, Deng menyatakan perlunya Cina/RRT mendirikan SD-SMA unggulan. Menurut
Deng, daripada kualitas sekolah secara umum jelek, lebih baik dibuat beberapa
sekolah yang unggul dengan harapan dapat berimbas kepada sekolah yang lain.
Akan tetapi hal ini juga menimbulkan efek negatif seperti siswa berlomba masuk
ke sekolah-sekolah unggulan dengan berbagai cara. Untuk menindaklanjuti
kebijakan Deng, Kementrian Pendidikan Cina/RRT mengeluarkan peraturan baru
dimana pendidikan dasar dilangsungkan selama 5 tahun dan pendidikan menengah
dilangsungkan selama 6 tahun.
Undang-undang mengenai wajib belajar 9 tahun dikeluarkan pada bulan
Mei 1985 dan mulai diberlakukan sejak April 1986. Hal ini merupakan bagian dari
Reformasi Tahap VII yang berlangsung dari tahun 1985-1998. Pada periode ini SD
kembali diubah menjadi 6 tahun dan SMP 3 tahun. Pemerintah tetap menerapkan
sentralisasi kurikulum, akan tetapi bahan ajar boleh dikembangkan masing-masing
daerah sesuai kebutuhan dan kondisi yang ada. Kurikulum sudah memasukkan materi
pengembangan kepribadian, menyediakan mata pelajaran pilihan, dan juga menambahkan
praktikum.
Tahap ke VIII dari Reformasi Pendidikan di Cina/RRT berlangsung
mulai tahun 1998 hingga sekarang ini. Pada tanggal 15-18 Juni 1999, diadakan
Konferensi Pendidikan Ketiga dengan fokus mereformasi pendidikan terutama
kualitas guru. Pemerintah Cina/RRT menyadari bahwa untuk bisa bertahan
menghadapi globalisasi perlu menyiapkan generasi muda yang kreatif dan
inovatif. Apalagi Cina/RRT menghadapi masalah pencemaran lingkungan yang
semakin parah dan populasi penduduk yang terus bertambah. Pada bulan September
2001 dikeluarkan kurikulum baru yang menitikberatkan pada inovasi dan kemampuan
mengaplikasikan teori dalam kehidupan sehari-hari.[16]
b.
Tujuan
dan prinsip dasar kurikulum pendidikan di negara Cina/RRT
Untuk memenuhi tuntutan “peradaban berbasis pengetahuan” (knowledge‐driven civilization)
sebagai jawaban terhadap tantangan di abad 21, pemerintah Cina/RRT mengubah
tujuan kurikulum sesuai harapan masyarakat Cina/RRT. Contoh dari perubahan tujuan
kurikulum adalah dengan menciptakan generasi berwawasan luas, yang memungkinkan
setiap individu untuk menemukan, menggali dan memperkaya potensi kreatif‐nya, serta menemukan kelebihan individualnya.
Hal ini berarti melampaui pandangan instrumen pendidikan yang
selama ini tunduk kepada tujuan tertentu (dalam hal keterampilan,
kemampuan atau potensi ekonomi) menjadi ke arah yang menekankan
pengembangan manusia seutuhnya (paradigma belajar menjadi). Menurut
pakar pendidikan Cina/RRT, pendidikan sebagai sarana untuk mencapai
tujuan pembangunan manusia adalah proses yang sangat individual dan pada
saat yang sama proses membangun interaksi sosial. Prinsip dasar pendidikan di
Cina/RRT adalah pendidikan harus berkontribusi pada pengembangan serba
masing‐masing individu‐pikiran dan tubuh, kecerdasan, kepekaan, rasa estetika, tanggung‐jawab pribadi, dan nilai‐nilai spiritual (dalam pengertian nilai‐nilai konfusianisme).[17]
Pendidikan di Cina/RRT selama dua dekade terakhir telah dipandu
oleh prinsip dasar, yang diusulkan oleh Deng Xiaoping, bahwa pendidikan
harus berorientasi modernisasi, ke dunia luar, dan ke masa depan. Tujuan
pendidikan adalah "mengaktifkan siswa untuk belajar dengan cara yang
aktif dan hidup serta berkembang secara moral, intelektual, dan fisik dengan
cara pengembangan semua potensi dan untuk mempersiapkan generasi baru yang
memiliki cita‐cita,
kebajikan moral yang dididik dalam disiplin". Tujuan pendidikan, hakikatnya terdiri dari dua
elemen penting yaitu: 1) penekanan pada "pengembangan semua potensi
peserta didik", dan 2) pergeseran fokus dari "pengetahuan
dasar dan pengembangan keterampilan dasar", nilai‐nilai atau pengembangan sikap serta dari akuisisi doktrin
politik‐ideologis
ke pendekatan holistik humanistik untuk pembangunan manusia seutuhnya.
Secara rinci tujuan kurikulum yang dijabarkan di atas tertuang
dalam falsafah Su‐Shi‐ Jiao‐Yu yang merupakan perwujudan pendidikan berorientasi kualitas.
Berikut tujuan kurikulum yang dimaksud:
1. Mengembangkan rasa patriotisme, kolektivisme, cinta sosialisme, dan
pelestarian tradisi budaya nasional;
2. Mengembangkan kesadaran/rasa demokrasi sosialis dan taat aturan
hukum serta mematuhi hukum dan norma‐norma
sosial;
3. Mengembangkan cara pandang hidup sehat dan bertumpu pada nilai‐nilai kehidupan;
4. Mengembangkan rasa tanggung‐jawab sosial dan kewajiban untuk melayani rakyat;
5. Membudayakan semangat kreatifitas, kemampuan praktek, kompetensi
ilmiah dan humanistik dan kesadaran lingkungan;
6. Mengembangkan dasar pengetahuan, keterampilan dan pendekatan untuk
belajar sepanjang hayat; dan
7. Mengembangkan tubuh yang sehat, kualitas psikologis yang solid,
apresiasi estetika dan cara‐cara
hidup sehat.
Tujuan kurikulum untuk tingkat SMA juga menambahkan hal berikut:
1. Mengembangkan kemampuan untuk belajar mandiri, kesadaran
kejuruan/kerja, kewirausahaan, perencanaan karir;
2. Memahami diri sendiri dan menghargai orang lain, belajar untuk
berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain, pengembangan semangat
tim/bekerja‐sama;
dan
3. Memahami keanekaragaman budaya, dan keterbukaan pikiran terhadap
dunia luar.
Kurikulum pendidikan dasar memiliki 3 tujuan dimensional, yaitu:
1.
Sesuai
pilihan konten pendidikan, termasuk pengetahuan dasar dan keterampilan dasar,
mencerminkan pembangunan sosial, kemajuan ilmu pengetahuan‐teknologi dan keragaman budaya, dan yang berkaitan dengan
pengalaman pembelajar;
2.
Mengintegrasikan
nilai‐nilai
pendidikan di semua kurikulum atau bidang pelajaran; dan
3.
Memperhatikan
proses dan pendekatan pembelajaran, mendorong pengembangan aktif, strategi
pembelajaran yang saling bergantungan.[18]
Secara ringkas tujuan dimensional kurikulum pendidikan dasar adalah
untuk merancang kurikulum pada dimensi: pengetahuan dan keterampilan, proses
dan pendekatan, dan afektif atau sikap dan nilai‐nilai.
4.
Struktur
Pendidikan Negara Cina/RRT
Pendidikan dasar Cina/RRT terdiri dari 3 tahun PAUD, 6 tahun
pendidikan dasar, 3 tahun pendidikan menengah pertama, 3 tahun pendidikan
menengah atas. Pendidikan tinggi setingkat akademi 2-3 tahun, pendidikan tinggi
kejuruan teknik 4 tahun, pendidikan gelar sarjana 4 tahun, pendidikan gelar
magister 2-3 tahun, pendidikan doctor 3 tahun.
Wajib belajar berlangsung selama 9 tahun, dimana anak-anak
memasuki sekolah dasar pada usia 6 tahun. Sebelum memasuki masa sekolah dasar,
anak anak dapat memperoleh pendidikan PAUD untuk beberapa tahun. Wajib belajar
terdiri dari 6 tahun sekolah dasar dan 3 tahun sekolah menengah pertama.
Setelah menyelesaikan pendidikan wajib belajar 9 tahun, siswa menempuh
ujian nasional untuk memasuki pendidikan menengah atas yang terdiri 3 kategori,
yaitu:
a.
SMA
Umum, merupakan sekolah menengah atas yang mempersiapkan siswanya memasuki
jenjang pendidikan tinggi.
b.
SMA
Spesialis/teknik/, sekolah menengah atas yang mempersiapkan siswanya dengan
keterampilan dan diklat khusus dibidang teknik yang siap terjun di dunia kerja.
Lulusan sekolah ini diperbolehkan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi.
c.
SMA
Vokasi/professional, sekolah menengah atas yang mempersiapkan siswanya dengan
keterampilan dan diklat khusus dibidang vokasi yang siap terjun di dunia kerja.[19]
5.
Manajemen
Sekolah di Negara Cina/RRT
Manajemen kurikulum di Cina/RRT terbagi dalam lima tingkat, yaitu
Kementrian Pendidikan, Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kota, Dinas
Pendidikan Kecamatan, dan sekolah. Pemerintah daerah mulai dari provinsi, kota,
dan kabupaten diperbolehkan merancang mata pelajaran muatan lokal yang
disesuaikan dengan keadaan wilayahnya, namun harus mendapat persetujuan
pemerintah pusat. Implementasi pembelajaran diserahkan kepada sekolah dengan
tetap berpatokan kepada kurikulum dari pusat dan daerah.
Sistem administrasi untuk pendidikan teknik dan kejuruan secara
keseluruhan merupakan tanggung jawab State Council, namun tanggung jawab
terbesar terletak pada pemerintah daerah yang berkoordinasi dengan sektor
swasta, industri, pengusaha, dan perusahaan dengan harapan bahwa pendidikan
keahlian yang diajarkan berorientasi pada keterampilan dasar yang sesuai dengan
dunia usaha dan pasar kerja.[20]
D.
PENUTUP
Dari paparan diatas dapat kita simpulkan bahwa, negara Cina/RRT
merupakan negara yang memiliki perhatian sangat tinggi dalam pendidikan dan
pengembangan sumber daya masyarakatnya. Tingginya perhatian terhadap pendidikan
juga menjadi cara dan pandang hidup masayarakat Cina/RRT. Dan ini terilhami
oleh kekayaan dan kebudayaan yang dimiliki oleh mereka, bagaimana mereka
memiliki semangat kukuh menghidupi apa yang menjadi keyakinannya, terutama
keyakinan mereka terhadap ajaran Kong Hu Chu dan aliran filsafat yang diletakan
oleh Con Fu Tse.
Negara Cina/RRT sangat memahami tantangan hidup yang harus mereka
hadapi, dan pendidikan adalah usaha yang penting untuk menaklukannya. Ini dapat
dilihat dari reformasi kurikulum pendidikan yang hingga delapan kali, dimana
kesemuanya menitik beratkan pada kemampuan individu dalam melakukan inovasi dan
mengaplikasikan dalam kehidupan sehari. Hal ini terbukti kini kita dapat
melihat bagaimana negara Cina/RRT menjadi negara maju yang harus menjadi contoh
bagi negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Chaerun, Sistem pendidikan di Cina/RRT, Beijing: Kantor Atase Pendidikan KBRI Beijing, 2014
Dawson, Raymond Kong Hu Cu, Jakarta: Pustaka Utama
Grafiti,1999
Den Berg, H.J. An, Kroeskamp, dan J.P. Simandjoentak, Dari
Panggung Peristiwa Sedjarah Dunia I: India Tiongkok dan Djepang Indonesia,
Jakarta: J.B. Wolters – Groningen 1951,
Fatimaningrum, Arumi Savitri, Manajemen Kurikulum Pendidikan
Dasar di China, Makalah untuk Seminar Nasional Diseminasi Shortcourse BERMUTU
Dikti 2012
Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia Keterangan Dasar
Republik Rakyat Tiongkok
Keputusan
Presiden (Keppres) Nomor 12 Tahun 2014
Said, Muhammad dan Junimar Affan, Mendidik Dari Zaman ke Zaman,
Bandung: Jemmars, 1987
OECD, PISA 2012 RESULT IN
FOKUS
http://permitnanjing.weebly.com/homepage.html, diakses 20 April 2015
http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/01/150120_bisnis_Cina/RRT_pertumbuhan , diakses 20 April 2015
[1] Muhammad Said
dan Junimar Affan, Mendidik Dari Zaman ke Zaman, Bandung: Jemmars, 1987,
h. 119
[2] Semangat akan
pentingnya pendidikan di Cina/RRT ini sesuai dengan ajaran Islam yang begitu
menekankan pendidikan. Misalnya hadist yang menyatakan kewajiban menuntut ilmu
bagi setiap muslim, juga hadist yang menyuruh umat islam menuntut ilmu hingga
akhir hayat.
[4]http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/01/150120_bisnis_Cina/RRT_pertumbuhan memberitakan,
di tahun 2014, ekomoni China mengalami pertubuhan melambat hanya 7,4%. Tetapi
pertumbuhan ini merupakan yang terendah sejak 20 tahun terakhir sehingga dapat
disimpulkan dengan data ini ekonomi selau mengalami kenaikan, diakses 20 April
2015
[5] Lihat indeks
peringkat pendidikan yang keluarkan oleh OECD melalui program PISA sebagaimana
terlampir dalam makalah ini.
[6] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
Melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 12 Tahun 2014 telah
mengeluarkan keputusan yang mencabut Surat Edaran Presidium Kabinet
Ampera Nomor SE-06/Pred.Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967, yang pada pokoknya
mengganti penggunaan istilah “Tjina” dengan
istilah“Tionghoa/Tiongkok”.
[7] Keterangan
mengenai negara Cina/RRT/RRT disarikan dari “Keterangan Dasar Republik
Rakyat Tiongkok” yang di terbitkan oleh Kementrian Luar Negeri Republik
Indonesia.
[8] Raymond
Dawson, Kong Hu Cu, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti,1999, h. xv
[9] H.J. An Den
Berg, Kroeskamp, dan J.P. Simandjoentak, Dari Panggung Peristiwa Sedjarah
Dunia I: India Tiongkok dan Djepang Indonesia, Jakarta: J.B. Wolters –
Groningen 1951, h. 186
[10] Muhammad Said dan Junimar Affan, , h. 119
[11] Muhammad Said
dan Junimar Affan,
[12] Muhammad Said
dan Junimar Affan,
[13] Raymond
Dawson, 1999, h. 16
[14] Chaerun Anwar,
Sistem pendidikan di Cina, Beijing: Kantor Atase Pendidikan KBRI Beijing, 2014, h. 8
[15] Chaerun Anwar,
h. 7-8
[16] Arumi Savitri
Fatimaningrum, Manajemen Kurikulum Pendidikan Dasar di China, Makalah
untuk Seminar
Nasional Diseminasi Shortcourse BERMUTU Dikti 2012, h. 2-5
[17] Chaerun Anwar,
h.14
[18] Chaerun Anwar,
h. 15
[19] Chaerun Anwar,
h. 18
[20] Chaerun Anwar,
h. 13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan beri masukan komentar anda